Rahasia Hubungan yang Sehat dalam Bercinta | Cintai Diri Sendiri | Cintai Pasangan | Sensasi Humor | Ciri-Ciri Hubungan Yangg Sia-Sia | Tip Menghindari Abusive Relationship

Desain Grafis dan Percetakan

Hubungan Sehat vs Hubungan Sia-Sia


Setiap orang pasti pernah mendengar atau melihat pasangan yang happily ever after. Nggak usah jauh-jauh, bisa jadi pasangan tersebut orang tua atau kakek-nenek kita. Pertanyaannya, kok bisa sih hubungan mereka seperti itu? Pada dasarnya sebuah hubungan itu layaknya makhluk hidup yang perlu dipelihara agar tetap hidup dan tumbuh sehat.

Jika suatu saat kita merasakan perubahan dalam hubungan tersebut, be wise! Jangan buru-buru memutuskan “nggak ada lagi kecocokan”. Perubahan itu bisa saja tanda bahwa kita perlu me-recharge love life kita yang sedang low-batt.

Rahasia Hubungan yang Sehat

Cintai Diri Sendiri


Percaya diri sangat penting dalam membina hubungan yang sehat. Bagaimana bisa membuat orang lain mencintai kita, kalau kita sendiri tidak mencintai diri sendiri? Kepercayaan diri mampu membuat kita lebih menikmati kebersamaan dengan pasangan. Kalau kita benar-benar bisa mencintai diri sendiri, maka segala bentuk rintangan akan mudah dihadapi.

Cintai Pasangan


Hubungan yang sehat terjalin antara dua orang yang saling mencintai. Kalau kita sudah merasa klik, nyaman, cocok dalam berpikir dan bertingkah laku, serta berbagi mimpi yang sama dalam menjalani hubungan, maka perasaan cinta itu nggak bakal menjauh. Ingat, ada kalanya kata cinta itu perlu diucapkan secara lisan. Kata-kata yang hangat dan dukungan satu sama lain sangat membantu dalam meningkatkan rasa percaya dan saling menghargai.

Memberikan Ruang Kepada Pasangan

Sebagai pasangannya, kita perlu saling memberikan ruang pada masing-masing pihak untuk melakukan segala aktivitas. Selama kita tahu batasan apa yang boleh dan nggak, hal ini nggak jadi masalah, kok. Tujuannya supaya nggak ada pihak yang tersakiti. Hubungan yang sehat terjadi ketika satu sama lain merasa aman untuk menjadi diri sendiri. Membiarkan pasangan berkembang dan selalu siap memberi dukungan adalah langkah awal menuju kebahagiaan.


Sensasi Humor

Menjalin suatu hubungan nggak seharusnya dilakukan secara monoton dan kaku, kan? Kita harus punya sense of humor untuk membuat pasangan bahagia. Banyak yang percaya bahwa hubungan yang diselingi senyuman akan membantu mencerahkan hari-hari yang sulit sekalipun. Tawa dan canda dipercaya sebagai obat yang terbaik dalam mengatasi masalah. Dengan tertawa, hubungan akan lebih akrab dan kita bisa mengerti satu sama lain. Tapi ingat, selalu hargai selera humor pasangan.

Berkomunikasilah!


Komunikasi yang baik juga menjadi rahasia untuk sebuah hubungan sehat. Keluarkan apa yang ada dalam pikiran dan hati, serta belajarlah saling mendengarkan tanpa harus menuduh. Dan, hubungan yang sehat bukan maksudnya “terlihat” sehat di depan banyak orang lho, tapi juga di antara kita dan pasangan.

Terima Perubahan

Setiap orang pasti akan berubah. Meskipun terkadang hasilnya nggak sesuai harapan, perubahan ini justru membuat hubungan jadi makin “hidup”. Dalam sebuah hubungan yang sukses, satu sama lain harus belajar untuk beradaptasi dan berubah secara bersamaan. Jadi, apa pun bentuk perubahan itu, coba sikapi dengan positif supaya hubungan menjadi solid dan semakin matang.

Ciri-Ciri Hubungan Yangg Sia-Sia

Kata orang, nih, pacar adalah orang yang bisa diajak berbagi perasaan. Ketika sedang membutuhkan dukungan, kita harap dia menjadi orang pertama yang memberikan semangat. Begitu juga ketika bahagia, maunya, sih, kita bisa berbagi tawa bersamanya. Tapi kalau kenyataannya nggak seperti itu, alias si dia susah untuk diajak berbagi, mungkinkah kita sedang menjalani hubungan yang sia-sia bersamanya? Sebelum mengambil mengambil keputusan besar, kenali dulu ciri-ciri hubungan yang sia-sia berikut ini dan baru tentukan mana yang lebih baik-putus atau lanjut?

Nggak Saling Peduli

Adu argumentasi itu wajar. Hal itu menjadi nggak wajar ketika kita nggak lagi saling memedulikan pendapat masing-masing. Dan kalau dia peduli dan respek pada kita, maka dia tidak akan berusaha meluangkan waktu untuk kita, bukannya malah mengalihkan "pandangan" ke arah lain saat kita sedang berbicara dengannya.


Gejala Kebosanan
Setiap pasangan pasti pernah mengalami saat-saat ketika kehabisan bahan obrolan. Jika hal ini nggak mengganggu, berarti hubungan kita masih aman. Sebaliknya, kalau kita nggak lagi merasa nyaman dengan keadaan ini, itu pertanda hubungan tengah memasuki gejala kebosanan.

Nggak Berusaha Mengenal Lebih Jauh

Mana mungkin orang yang sudah berpasangan lebih memilih menghabiskan waktu bareng teman-temannya ketimbang pasangannya? Gejala seperti ini bisa menandakan bahwa si dia memang nggak berniat mengenal kita lebih jauh. Kalau sudah seperti ini, hubungan percintaan pun bakal terancam. Ketika memutuskan menjadi pasangan orang lain, sudah semestinya kita belajar menjadi bagian dari hidupnya. Kita harus berusaha saling melengkapi kelebihan dan kekurangan masing-masing. Inilah yang dinamakan mendapatkan soul-mate.

Saling Mengkritik Hal Sepele

Saat awal pacaran, masing-masing cenderung jaim. Semua yang diperlihatkan terkesan sempurna. Tapi, jika pada tahap pacaran saja, si dia sudah sering memberikan kritikan pedas yang tidak membangun (tentang berat badan, model rambut, ataupun pakaian), itu bisa jadi pertanda buruk. Kritik seperti ini, baik disadari atau tidak, merupakan sikap yang merendahkan seseorang dan termasuk dalam kekerasan psikologis.

Jus t for Fun
Biasanya karakter asli seseorang akan mudah dikenali pada saat kita mengalami kesulitan. Jadi, gunakan momen ini untuk melihat sisi baik dan buruk pasangan. Ketika kita tertimpa musibah, perhatikan apakah si dia termasuk orang yang spontan menawarkan bantuan (baik moril maupun materiil)? Mampu melewati masa-masa sulit bersama jelas merupakan kualitas yang dibutuhkan dalam membina sebuah hubungan yang sehat. Jika ternyata si dia seolah-olah nggak peduli dengan apa yang menimpa kita, artinya dia hanya ingin bersenang-senang dan sebaiknya say goodbye to him.

Tanda-tanda Abusive Relationship

Seharusnya membina hubungan spesial itu menyenangkan. Kita punya seseorang yang menyayangi dan kita sayangi. Tapi sering kali kita nggak sadar bahwa hubungan tersebut bisa berubah menjadi nggak sehat dan diwarnai kekerasan. Kekerasan dalam pacaran ini adalah segala bentuk tindakan yang mempunyai unsur pemaksaan, tekanan, perusakan, dan pelecehan fisik maupun psikologis yang terjadi dalam hubungan percintaan. Contoh kekerasan fisik adalah pemukulan atau paksaan melakukan hubungan seksual. Sedangkan, kekerasan psikologis atau emosional berkaitan dengan kebohongan, ancaman, tekanan, cacian— baik melalui perkataan maupun perbuatan. Intinya, kita dipaksa, merasa terpaksa, atau nggak nyaman melakukan atau menerima tindakan tersebut.

Biasanya pemicu tindak kekerasan ini adalah bahwa si pria merasa berhak mengontrol pasangannya dan berani melakukan kekerasan fisik supaya terlihat lebih jantan. Sementara, pihak wanita yakin bahwa perlakuan pasangannya itu disebabkan oleh rasa sayang. Akibatnya, kita hanya bisa pasrah tanpa tahu bagaimana menyikapi tindak kekerasan tersebut.

Berbeda dengan kekerasan fisik, siksaan psikologis perlu lebih diperhatikan. Hal ini memang nggak meninggalkan bekas luka nyata. Tapi, efeknya bisa lebih parah daripada luka fisik. Bahkan dibutuhkan waktu yang lama untuk proses penyembuhannya, apalagi kalau kita termasuk orang yang kurang percaya diri. Akibatnya, kita jadi minder, merasa nggak berharga, dan suka menyendiri. Selain itu, kita bisa terus-terusan terjebak dalam hubungan yang nggak sehat seperti ini di masa depan (dengan pasangan yang berbeda).

Mulai sekarang tetaplah waspada karena kekerasan sering kali dimulai dari hal yang sederhana dan selalu mengatasnamakan cinta. Akhirnya kita terjebak dalam situasi yang membuat kita nggak sadar bahwa telah menjadi korban. Untuk melindungi diri, ada baiknya mengetahui beberapa tanda apakah si dia memiliki kecenderungan berlaku abusive atau tidak. Jika kita menemukan bukti-bukti seperti di bawah ini, plis tinggalkan dia!

Kritik Terhadap Penampilan Fisik
Biasanya jenis kekerasan ini dimulai dari “kepedulian” dia terhadap tampilan fisik kita. Awalnya dia akan memberikan kritik tentang bagaimana cara mempercantik diri. Seiring dengan berjalannya waktu, kritik tersebut berubah menjadi tuntutan dan bahkan ejekan. Misalnya, ketika dia merasa kita over weight sedikit saja, dapat dipastikan si dia akan berkomentar bahwa kita harus diet superketat. Padahal, sebenarnya kita masih merasa nyaman dengan berat tubuh kita. Menurut survei yang dilakukan oleh Making Waves, sebuah organisasi yang menangani KDP (kekerasan dalam pacaran) remaja di Amerika, dinyatakan bahwa seseorang yang nggak bisa menghargai penampilan fisik sering terdorong untuk melakukan perilaku abusive lainnya.

Balas Dendam atau Ancaman
Sering kali pelaku kekerasan nggak bisa mengontrol emosinya. Mereka mempunyai kecenderungan yang kuat untuk melakukan balas dendam pada orang yang pernah menyakiti mereka. Dalam hal ini pihak wanitalah yang biasanya menjadi korban. Kita menjadi sasaran balas dendam jika menolak melakukan apa yang dia inginkan. Ancaman seperti ini harus ditanggapi secara serius. Mulai sekarang cobalah lakukan pengamatan pada pasangan. Apakah dia punya kesulitan mengatasi amarahnya, menyalahkan orang lain atau nggak sabar terhadap orang yang berbuat salah kepadanya? Jika iya, pertimbangkan risikonya (yang mungkin berbahaya) untuk melanjutkan hubungan dengannya.

"Kekerasan Terselubung'"

Bentuk kekerasan ini terjadi tanda disadari. Bentuk kekerasan ini bisa berupa, meraba pada tempat yang tidak seharusnya atau cubitan dengan alasan bercanda; yang membuat kita merasa tidak nyaman. Ungkapan kekerasan pun sering muncul, misalnya berupa cacian, makian, umpatan, hinaan, julukan yang bikin sakit hati, cemburu berlebihan, larangan yang membatasi aktivitas, larangan berdandan, pembatasan pergaulan, larangan bertegur sapa atau ramah dengan orang lain, serta tindak pemerasan. Kebanyakan korban malah bertanya-tanya sendiri apakah itu pantas dilakukan oleh pasangannya, tetapi tidak berani membahasnya dan membiarkan si dia bebas dari tuduhan atau kecurigaan.

"Warisan" Keluarga
Ketika awal menjalin cinta, biasanya rahasia keluarga sengaja disembunyikan dari orang lain, termasuk pasangan. Padahal bisa jadi tindak kekerasan ini merupakan "warisan" dari keluarganya. Bisa jadi pasangan ternyata tumbuh besar di lingkungan keluarga yang abusive, misalnya salah satu anggota keluarga mengonsumsi obat-obatan atau alkohol, sering melakukan kekerasan fisik atau mental (melalui kata-kata kasar). Mengenal lebih jauh keluarga si dia adalah jalan terbaik untuk menentukan hubungan ini.

Kecemburuan

Penyebab timbulnya rasa cemburu bermacam-macam, antara lain pengalaman pernah dikhianati, rasa ingin menguasai orang lain, atau hilangnya konsep kepercayaan (mungkin karena orang tua kurang menunjukkan rasa saling percaya satu sama lain). Sayangnya, sikorban kekerasan terkadang menyepelekan hal ini. Padahal, efeknya justru akan menimbulkan perasaan tertekan, terintimidasi, dan nggak nyaman. Masalahnya, korban sering kali gagal melihat faktor ketidaknyamanan dari hubungan te rsebut. Dia berpikir bahwa apa yang dilakukan pasangan terhadap dirinya semata-mata atas nama cinta. Padahal dengan sikap cemburunya itu, kita seolah-olah diajak masuk ke sebuah dunia di mana nggak ada lagi orang lain kecuali dia.

Tekanan Seksual
Cintanya pada kita bisa dikatakan murni jika pasangan tidak memaksa kita melakukan apa pun, termasuk secara seksual. Bagi pelakunya, tindakan ini adalah upaya menguasai pasangan. Dia menganggap kita bisa menjadi boneka mainannya melalui permainan seksual. Semakin lama kita terjerumus ke dalam hubungan cinta yang nggak sehat ini, si dia akan semakin berkuasa atas tubuh kita.

Kekerasan secara seksual biasanya berupa pemaksaan hubungan seksual dan pelecehan seksual (rabaan, ciuman, sentuhan) tanpa persetujuan kita. Sekarang pertimbangkanlah kembali tindakan kita memberikan segalanya (termasuk tubuh sendiri) pada pasangan. Pembuktian cinta itu nggak perlu lewat seks. Cinta itu sesungguhnya lemah lembut, penuh kasih, tanpa ada kekerasan di dalamnya.

Tip Menghindari Abusive Relationship

Saat kekerasan dalam berpacaran terjadi, kita harus bisa berkata, “Stop sampai di sini!”. Kita berhak atas diri kita, no matter what\ Mau tahu jurus ampuh menghindari abusive relationship ini?

  1. Mulai dengan keyakinan bahwa tubuh kita berharga. Tubuh adalah jiwa kita. Jangan biarkan apa pun atau siapapun merusaknya. Ketika tubuh mulai dieksploitasi untuk pertama kali, pasti akan ada kali kedua, dan seterusnya. Bahkan mungkin nggak akan pernah berhenti. Tunjukkan kepadanya betapa berharganya tubuh kita. Dengan begitu dia pun akan mulai belajar untuk menjaga dan menghargai kita sebagai orang yang dia cintai.
  2. Beri penjelasan arti dan arah dari hubungan cinta ini. Berpacaran semestinya dilandasi oleh itikad baik antara kita dan si dia. Selain melibatkan aspek emosi dan keyakinan, tentu saja ada unsur pembelajaran, penghargaan, penghormatan, serta komunikasi saat kita berhubungan dengan seseorang. Kalau sudah terjadi kekerasan di awal hubungan, berarti kita gagal mencapai tujuan utama dari hubungan tersebut.
  3. Berani berkata “Tidak!”. Semua hal dapat terjadi jika kita mau, ataupun sebaliknya. Putuskan apa yang kita inginkan. Komunikasikan perasaan, pikiran, dan keyakinan kita pada si dia. Jika ada perasaan yang kurang nyaman, sebaiknya ungkapkan secara terbuka dan jujur, disertai dengan alasannya. Ingat, jika benar-benar cinta, dia tentu akan melindungi orang yang dicintainya dari kehancuran. So, beranikan dan mantapkan diri untuk berkata “tidak” sebelum terlambat.
  4. Belajar menjadi diri sendiri. Jangan mulai membiarkan kekerasan dalam berpacaran menimpa kita hanya karena ingin menyenangkan hati si dia. Kita bisa belajar menjadi diri sendiri. Pertahankan sikap dan perbuatan positif. Kita harus mulai memandang hal dari sisi yang baru. Jadi bersiaplah untuk belajar, belajar, dan belajar.
 Dekorasi Acara | Ulang | Tahun | Anak | Balon | Cewek | Laki | LuxDekorasi Acara | Ulang | Tahun | Anak | Balon | Cewek | Laki | Lux

0 Response to " Rahasia Hubungan yang Sehat dalam Bercinta | Cintai Diri Sendiri | Cintai Pasangan | Sensasi Humor | Ciri-Ciri Hubungan Yangg Sia-Sia | Tip Menghindari Abusive Relationship "

Ping Blog Search | Add Url | Bing Master | Site Value | Seo Jerman