Tuesday, April 5, 2016

Kisah-Kisah Menggetarkan 24 Jam Sebelum Pernikahan

Kumpulan Kisah-Kisah Menggetarkan 24 Jam Sebelum Pernikahan

Kisah-Kisah Menggetar 24 Jam Sebelum Pernikahan

Ketika Allah Lebih Mencintai

Mata-mata di Hari Bahagia by Chalim ST


MENIKAH adalah peristiwa bersejarah dalam hidupku, yang tidak akan mudah terlupakan. Jika umumnya rangkaian acara pernikahan itu dari lamaran, akad nikah kemudian resepsi, aku harus mengikuti kehendak orangtua yang menghendaki proses pernikahanku lain dari yang lain: lamaran, resepsi baru akad nikah.

Detik-detik yang menegangkan sudah kurasakan sejak pagi hari menjelang akad nikah. Aku gelisah karena ancaman K, laki-laki yang sempat mencintaiku sebelum calon suamiku, R datang melamar. Aku tidak pernah suka pada K. Dan K mengancam akan membuat perhitungan. Saat itu aku tidak menghiraukan ancamannya. Karena berpikir bila K benar-benar suka padaku, K tidak akan melaksanakan ancamannya. Tetapi saat menanti kedatangan R, aku khawatir, K benar-benar akan melaksanakan ancamannya.

Kuminta teman-teman berada di kamar mendampingiku,

sementara di luar banyak orang sibuk menyiapkan segala sesuatu di hari resepsi pernikahanku. Berbagai macam perasaan bercampur menjadi satu menghampiriku. Antara bahagia, malu, gugup, takut, cemas, dan rasa tidak percaya diri akan menikah. Akhirnya pukul 10.00 pagi, calon suamiku datang ditemani oleh temannya. Mereka dijemput atas perintah dari keluargaku. Begitu tahu R datang, hatiku semakin berdebar-debar tidak menentu. Supaya lebih aman, R mengajakku ke rumahnya. Namun aku menolak karena belum resmi menjadi istrinya. Agar tidak menyakiti

resmi jadi suami istri, bisa pergi berdua kapan saja. Aku harus bersyukur R mau mengerti dan memahami keadaannya.

Akhirnya aku, R, dan teman-teman bercerita tentang banyak hal untuk mencairkan suasana. Siang hari usai shalat zuhur, penata rias pengantin datang. Ibu penata rias mendandaniku sambil bercerita tentang berbagai hal, sementara teman-temanku sibuk membantu menghiasi kamar tidurku. Dua keponakanku juga dirias karena mereka akan menemani di pelaminan nanti.

Saat dirias, rasa malu memasungku. Degup jantungku begitu kencang. Kipas angin yang ada tidak dapat mengurangi rasa ketegangan dan malu yang kurasakan. Aku merasa tidak percaya akan menikah, apalagi R memandangku seakan tidak mau berpaling pada yang lain. Untunglah bedak yang dipoleskan ke wajahku dapat menutupi raut mukaku yang tegang dan mungkin merah padam.

Dua jam kemudian, riasanku selesai. Aku dituntun menuju ruang tamu untuk duduk di pelaminan. Perasaanku masih tidak menentu, dan kaki ini seakan sulit untuk kugerakkan. Begitu tiba di ruang tamu dan duduk di pelaminan, perasaanku lebih tenang dan merasa bahagia. Mungkin karena banyak tamu yang datang sehingga aku lupa dengan petasaan malu dan tegang yang kualami saat dirias tadi. Aku mengucap syukur pada-Nya akhirnya bisa duduk dipelaminan berdampingan dengan R.

Detik demi detik berlalu, dan sehabis shalat ashar tiba saatnya untuk sungkeman pada orangtua. Hatiku benar-benar terharu bersimpuh pada kedua orangtua memohon doa restu. Air mata bahagia tidak dapat kutahan dan mengalir begitu deras, seperti derasnya air hujan yang mengguyur bumi di hari bahagia ini. meskipun hujan, tidak dapat mengurangi rasa bahagia yang kurasakan.

Setelah acara meminta doa restu pada orangtua dan foto-foto bersama dua keluarga, aku duduk di pelaminan tanpa R sebagai calon suamiku. Rasa cemas, takut, dan tegang menghampiri lagi. Akankah pernikahanku kali ini berjalan lancar atau akan gagal? Kenapa R tidak duduk di pelaminan denganku? Hatiku diliputi kegelisahan dan pertanyaan. Kulihat banyak polisi berjaga-jaga. Aku semakin bingung. Ingin rasanya aku bertanya di mana R berada dan kenapa tidak mendampingiku duduk di pelaminan. Aku berusaha mengurangi rasa gelisah dengan shalat maghrib, kemudian berbuka puasa walau masih dalam keadaan dirias.

Setelah buka puasa, yang kujalani sejak seminggu yang lalu, aku kembali duduk di pelaminan seorang diri. Hingga menjelang shalat isya seorang tamu undangan menanyakan keberadaan R padaku. Aku yang diliputi rasa gelisah, merasa curiga dan hati-hati dalam menjawab meski belum resmi menjadi istri R. Ada apakah gerangan malam ini? Batinku bertanya sendiri. Dan saat berganti gaun pengantin selepas shalat isya itulah semua pertanyaanku terjawab. Saat itu aku mendengar R dinasihati agar jangan duduk di pelaminan denganku karena berbahaya. Aku baru menyadari, ternyata ada mata-mata bayaran yang akan mencelakakan R. Ternyata ancaman K yang pernah dikatakannya bukan omong kosong belaka.

Untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, akhirnya R bersembunyi di kamar orangtuaku. Teman-teman R menjaga kamar itu dari serangan orang yang tidak dikenal. Setelah mengetahui ada mata-mata bayaran, aku semakin khawatir dan cemas luar biasa. Hatiku kembali bertanya sendiri, akankah pernikahan berjalan lancar atau gagal? Namun semua rasa itu kuusir dengan doa, memohon pada-Nya agar tidak terjadi apa-apa kala itu. Rasa takut dan cemas berkurang karena aku yakin dengan pertolongan dari-Nya. Polisi juga banyak berjaga-jaga. Ternyata ayahku sengaja memanggil mereka untuk datang mengamankan acara setelah tahu ada mata-mata berkeliaran di malam resepsi pernikahanku.

Malam semakin tua dan para tamu undangan masih banyak yang berdatangan. Begitu pula dengan orang-orang asing yang kutebak pastilah mata-mata bayaran itu. Mereka berlalu-lalang mencari keberadaan R. Orang yang menanyakan keberadaan calon suamiku bukan satu-dua lagi. Hampir semua yang datang memberi selamat menanyakan di mana R.

Bahkan orang-orang asing itu kulihat bertanya pada para tetangga yang sibuk terlibat sebagai panitia resepsi. Waktu berjalan lambat. Bilangan jam kurasakan bagai setahun lamanya.

Pukul 00.30 dini hari aku baru bisa masuk kamar namun tidak langsung istirahat karena ada teman-temanku yang bercerita tentang orang-orang asing itu. Rasa kantuk belum menghampiri meskipun badanku lelah.

Baru pukul 03.00 dini hari ketika teman-temanku mengantuk aku pun ikut tertidur bersama keponakanku yang tadi mendampingiku di pelaminan. Tidak sampai dua jam terlelap, aku sudah harus bangun untuk mempersiapkan diri. Dari mandi, shalat, berpakaian rapi juga sarapan. Waktu di pagi hari kurasakan berjalan begitu cepat, tidak seperti tadi malam. Aku bersyukur, mata-mata bayaran itu telah pergi karena tidak menemukan mangsanya.

Suasana mulai terasa nyaman, pukul 06.30 aku dan R melakukan ritual adat Jawa menyapu sampah. Aku yang memegang sapunya, R yang memegang tempat sampahnya. Ritual ini adalah simbol bila dalam berumah tangga nanti kami menghadapi suatu masalah, hendaklah diselesaikan dengan cara bermusyawarah. Ringan sama dijinjing, berat sama dipikul. Rasa malu, gugup, dan debar jantungku semakin kencang. Jika semalam cemas dan gelisah sekarang juga tak kalah tegangnya.

Acara kemudian dilanjutkan dengan acara mempertemukan pengantin pria dan wanita. Dari seluruh rangkaian adat jawa yang kujalani, hal yang paling berkesan bagiku adalah membasuh kaki R dan saat saling menyuapi. Rasanya malu, takut dan bahagia bercampur baur. Malu karena belum pernah membasuh kaki juga menyuapi seorang lelaki. Takut karena aku belum lama berkenalan dengan R. Sebuah perkenalan yang berawal dari sepucuk surat yang dikirim R padaku. Aku tidak membalasnya. R tidak putus asa, ia terus mengirimiku surat. Akhirnya surat R kubalas dan menantang R, jika serius datang ke rumah dan temuilah kedua orangtuaku. R datang ke rumahku dengan gagah berani. Empat bulan setelah perkenalan, R melamarku.

Pukul 08.30 ritual adat Jawa selesai. Penghulu juga telah datang. Aku dan R duduk berdampingan di depan penghulu. Hatiku berdebar-debar tidak menentu. Panas dingin kurasakan meski aku tidak akan mengucapkan kata-kata akad nikah. Disaksikan kedua keluarga, dengan mahar uang tunai serta seperangkat alat shalat akad nikah berlangsung lancar dan khidmat. Aku bersyukur pada-Nya, akhirnya akad nikah dapat terlaksana. Detik-detik yang menegangkan itu berubah menjadi rasa haru dan bahagia yang membuncah di hati, sampai bulir-bulir kristal membasahi pipiku.

Aku mencium tangan suamiku. Dan resmilah aku menjadi istri R. Menyempurnakan separuh dari agama, juga telah menjalankan sunnah Rasulullah. Aku telah menikah. Semoga pernikahanku dijadikan sebagai rumah tangga yang barokah, sakinah, mawadah, warohmah juga dijodohkan dengan R dunia akhirat oleh-Nya. Amin....

Berjuta Cerita Menjelang Akad Nikah

-Yudith Fabiola-

DAG dig dug . Dag dig dug.
Ah... bukan begitu, harusnya begini, Degdegdegdegdegdegdeg.

Ck...! Bukan juga. Tepatnya begini,
Sayangnya aku tak bisa melepas kangen dan bercengkerama lama dengan mereka karena harus segera dirias. Kupersilakan saja sahabatku menemaniku di kamar.

Berguguran Alis Mata, Berderaian Air Mata

Akad nikah lebih kurang dua jam lagi! Aku harus segera dirias. Sebelum dirias, aku sudah mewanti-wanti, kalau tak ingin dikatakan mengancam, sang penata rias bahwa aku-tidak-mau-alis-mataku-dikerik-sedikitpun-dengan-alasan-apapun. Aku tahu hal itu tidak dibenarkan dalam agama. Selain itu, aku kan berjilbab, dibentuk seperti apapun alisku tidak banyak pengaruhnya, toh sebagian wajahku akan tertutup jilbab juga.

Selama dirias, aku menjadi ‘model’ yang baik. Disuruh memejamkan mata, diminta tak banyak gerak. Kerja mereka lembut, membuatku hampir tertidur. Aku yang tak pernah merias diri, tak tahu sudah sampai fase mana hasil riasanku. Maka, ketika aku diminta membuka mata dan bercermin, “AAA....!" teriakku tertahan, “Ini bukan aku!" seruku kesal. Alis mataku berguguran, dikerik oleh mereka. Ancamanku dianggap gertakan saja. Tak bisa ditahan, air mataku berderaian. Biar... biar saja riasan di wajahku coreng moreng tersapu air mata. Aku tak peduli. Kutatap wajah sahabatku nanar. Kesal dan malu mewarnai hatiku. Sahabatku hanya terdiam, tentu saja mereka tak punya kuasa untuk mengatur-ngatur penata riasku. Tangisku reda oleh bujukan Mama. Wajahku kembali dipoles dan aku hanya bisa tergugu dalam hati. Wajahku menjelma topeng. Bagiku, tak cantik sama sekali meski orang-orang memuji-muji selangit. Bah!

Yah... mau bagaimana lagi? Nasi sudah jadi bubur. Mungkin, bagi yang ingin menikah dan tidak ingin mengalami hal yang sama denganku, dikerik alis matanya. Buat dulu Memorandum of Understanding antara dirimu dan penata rias. Bubuhi materai Rp 6000 rupiah yang penandatanganannya disaksikan oleh kuasa hukum! Hhh...

Syukurlah acara akad nikahku berlangsung lancar. Dan... alis mataku tumbuh lebat tiga minggu kemudian.

The Lost Prince

-Wiekerna Malibra-

SEMENJAK lulus SMA hingga bekerja, teman-teman seusiaku sudah banyak yang menikah. Satu persatu undangan pernikahan sampai ke tanganku. Aku jadi punya hobi baru, yakni mengkoleksi kartu undangan dan datang ke acara pernikahan. Terutama ‘nonton akad nikah’ atau bahasa trend-nya walimah. Setiap mengikuti dan menyaksikan secara langsung acara ijab qabul, aku acapkali ikut menitikkan air mata seperti temanku yang menjadi mempelai wanitanya. Selalu ada sensasi keharuan yang menyeruak di kalbu manakala ‘kalimat-kalimat pengukuhan dan keteguhan’ yang dibacakan petugas dari KUA yang diikuti oleh mempelai pria itu berlangsung.

Hikmah lain yang kudapat dari pernikahan teman-temanku adalah manajemen acara pernikahan. Ada yang mengadakannya di rumah. Ada juga yang mengadakannya di gedung, dari gedung biasa macam Balai Wanita sampai ada juga yang di gedung kelas satu macam Balai Sudirman. Aku sangat suka memperhatikan warna yang mendominasi dekorasi ruangan. Bila warna tirai penyekat dindingnya cantik dan hiasan bunga-bunga ditata apik akan tetap membuat ‘kesan mewah’ meskipun pesta diadakan di rumah.

Aku juga suka memperhatikan pakaian pengantin yang dikenakan oleh kedua mempelai dan keseragaman baju kerabat kedua mempelai. Pemandangan yang beda bila melihat batik-batik dan kebaya yang sewarna bertebaran di acara pernikahan. Jadi lebih harmonis di mataku. Dan insya Allah, aku pun ingin membuat keseragaman di pesta pernikahanku kelak.

Dan tibalah saat itu. Saat teman lelaki yang paling akrab, memintaku menjadi istrinya, la datang beserta keluarganya. Kunjungan dan permintaan yang membuatku merasa mendapat anugerah separuh dien-Nya. Teman dekatku, bakal suamiku itu adalah seorang yang HAQA: Hafizhun, Alimun, Oawiyyun, Azizun. Aku tahu dia Hafizhun, karena senantiasa memelihara hubungan rohaninya dengan baik pada Allah dan sesama manusia. Dia Alimun, cukup berilmu dan pandai yang kerap menuntunnya menjadi subjek (pioneer) dari sesuatu hal dan bukan objek penyerta. Dia Oawiyyun, meski secara fisik kurang kuat tapi mentalnya tangguh yang membuatnya konsisten pada pilihannya yaitu aku. Dan dia juga Azizun, karakternya tegar dan simpatik menjadikannya kharismatik. Betapa beruntungnya aku bakal diperistri olehnya. Inilah saatku mewujudkan angan yang bertahta dalam benakku sejak pertama kali aku berpikir tentang pernikahan dan resepsi. The garden party for my wedding ceremony. Kupikir bakalan seru kalau pestanya di kebun belakang rumahku dalam suasana yang Islami dan sakral.

Sebulan kami sekeluarga menyiapkan detail-detail pernikahan. Dari menjahit kebaya pengantin, belanja seserahan, booking perias pengantin dan pelaminan, memilih menu untuk pesta dan mengurut nama tamu yang akan diundang. Aku memilih undangan dari semua koleksi undangan pernikahan teman-temanku. Aku suka sekali yang berwarna hitam dengan foto calon pengantin, kesannya elegan. Ternyata dia juga suka. Jadilah kartu itu berhiaskan tinta emas doa Rasulullah Saw pada pernikahan putrinya Fatimah Az Zahra ditambah sajak pengantin yang sengaja kutulis untuk kartu undangan kami.

Sehari sebelum hari H, keinginanku telah terwujud. Undangan telah disebarkan seminggu lalu. Catering makanan dengan menu spesial telah dipesan. Tenda putih, kursi-kursi beralaskan sarung putih telah dijejerkan rapi. Hamparan rumput nan hijau dan rangkaian bunga nan indah telah tertata sempurna di setiap penjuru kebun. Kebaya putih cantik untuk akad dan gaun pengantin putih susu untuk resepsi tergantung khidmat di lemariku. Esok, mimpi itu kan sempurna, menjadi nyata. Aku akan melepas masa lajangku dan menapaki hidup baru bersamanya.

And the life must goon...

“Tapi sesuatu yang tak terduga bisa saja terjadi esok." Perasaanku harap-harap cemas. Khawatir, sesuatu mungkin saja terjadi menghalangi acara pernikahanku.

Seharian aku berdoa khusus untuk kesehatan calon suami. Di luar perhitungan kami, leukemia yang telah tiga tahun mendekam dalam tubuhnya, kembali menyerangnya dua hari sebelum pesta itu. Dia begitu lemah dan kesakitan. Sehingga harus dibawa ke rumah sakit. Kondisinya sangat kritis! Merisaukan semua keluarga dan membuatku sangat takut. Aku berdoa semoga Allah memberinya kekuatan dan kesehatan. “Egoiskah aku meminta itu? Semata-mata untuk kelangsungan pernikahan pernikahanku." Aku hanya ingin dia hidup agar bisa menikahiku. Aku begitu egois, tidak memikirkan apa yang terbaik untuknya.

Dan Allah-lah pemilik segala makhluk. Sehari sebelum pernikahan kami. Allah mengambilnya pulang, benar-benar mengambilnya...

Luluh lantak hatiku. Tak terurai rasa dalam kata-kata. Semua melunglai. Meski kusadari, Allah maha berkehendak akan segala sesuatu pada diri makhluk-Nya. Aku tetap saja tak bisa lepas dari kecewa. Twenty four hours before my weddirtg ceremony... I lost him forever...

Berbulan, aku tertatih mengeja hari, mengenang mimpi yang terenggut. Batinku terluka. Sulit sekali melepaskan ingatan padanya, saat tubuhnya terbujur kaku membisu di sudut kamar rumah sakit. Meski Allah dengan kasih-Nya telah memberikan orang-orang terbaik untuk berada di sisiku dan menghiburku setiap saat. Beberapa teman mencoba menggantikan posisinya di hatiku. Memintaku menjadi pendamping hidupnya. Tapi aku tak bisa menerima. Aku masih trauma. Kenangan bersamanya terpatri begitu kuat dalam jiwaku.

Aku sadar, dia tak akan kembali. Allah telah mengambil pulang ruhnya. Jasadnya telah bersatu dengan tanah. Dia telah pergi membawa mimpiku tentang rumah tangga baru. Rumah tangga yang sakinah, mawaddah, warrahmah tidak kumiliki dengannya...

“Rabb, betapa aku ingin seperti hamba-hamba-Mu yang shalehah. Yang tak berpikir macam-macam tentang pernikahan. Tentang arti sebuah rumah tangga buat mereka. Tak banyak keinginan dan kriteria pasangan hidup. Akan siapa dan bagaimana ‘ia’, lelaki yang menjadi pilihanku. Tapi aku tak bisa. Sungguh, aku tak bisa. Segumpal kekerasan yang bersarang dalam benakku, bertahun lamanya, bahkan mungkin telah sejak kanak tumbuh dalam neuron otakku, melingkupi pola pikirku. Bahwa ia, seseorang yang akan menjadi suamiku, menantu ayah bundaku, ayah dari anak-anakku kelak, haruslah seorang yang HAOA. Tapi aku lupa berkaca akan siapa dan bagaimana aku sebenarnya. Yang sebenar-benarnya dari diri seorang Wiekerna... Maka kali ini, aku memohon ampunan-Mu dan mudahkanlah jalanku menggapai anugrah separuh dari dien-Mu. Menikahkanlah aku dengannya... Insya Allah."

Itulah perenunganku usai shalat fajar, menjelang subuh. Perenungan panjang dari sepertiga malam, tentang sebuah pernikahan yang ‘nyaris’ kumiliki tapi akhirnya ‘gagal total' di awal Februari 2008. Jika ada sisa harapan dalam hidupku di jalan-Nya adalah tetap menantikan anugrah separuh dien-Nya. Menikah dengan lelaki pilihanNya, benar-benar lelaki yang terpilih untuk menemani hidupku selanjutnya.
Dekorasi Pelaminan Minimalis
Kisah-Kisah Menggetarkan 24 Jam Sebelum Pernikahan
Untuk Mereka Yang Mencintaiku