Wednesday, April 6, 2016

Untuk Mereka yang Mencintaiku

Untuk Mereka yang Mencintaiku 

-Nadia Cahyani-
Untuk Mereka yang Mencintaiku

MENJADI pengantin, bersanding di pelaminan disaksikan oleh segenap keluarga dan tamu undangan. Memakai pakaian paling indah dan berhias untaian melati juga minyak wangi. Saudara mara, handai taulan, sahabat dan tamu undangan memberi doa dan restu. Bahkan, ada yang memberi bingkisan sebagai kenang-kenangan atau kado. Begitulah yang sering aku bayangkan tentang hari persandingan. Kapan lagi kita akan dilayani bak permaisuri, dimanjakan, dirias dan disediakan kebutuhan kita. Kalau bukan saat itu. Rasanya tak sabar menunggu masa itu.

Sudah beberapa hari aku siapkan jiwa dan raga untuk menyambutnya. Menyongsong hari yang beda dengan sebelumnya. Aku melihat orangtuaku tersenyum bahagia menyambut tamu undangan yang datang. Wajahnya bersinar, seperti habis menelan rembulan dan sinarnya pecah ke berbagai arah. Menyembul lewat sorot matanya, lewat bibirnya, lewat embusan napasnya dan lewat lambaian tanganya.

Ibuku. Wanita dusun yang tidak pernah berias, hari ini tampak lain. Kebaya warna coklat keungu-unguan dipadu dengan kain batik sidomukti, yang bagus dan halus. Serasi dengan dandanannya hari itu. Polesan tipis diwajahnya, sedikit bedak dan gincu membuat Ibu tampak lebih muda dari usianya. Seolah Ibu telah menemukan kecantikannya kembali yang sekian tahun terkikis oleh usia. Dalam hati aku mengaguminya. Kagum dengan kecantikan Ibu juga kagum pada perias yang telah menyulap wanita yang sehari-hari bekerja di sawah itu menjadi sedemikian ayunya.

Sementara Bapak. Laki-laki yang usianya hampir tiga kali lipat dari usiaku saat itu, mendadak menjadi lebih tampan dan berwibawa. Jas hitam pinjaman dari seorang saudara mampu merubah penampilannya. Beberapa kali Bapak memandangku dari kejauhan. Mungkin hari ini, keramaian seperti ini sudah lama dinantikannya dan ini bagai sebuah oasis di padang pasir. Sesekali beliau mendekatiku, tanpa bicara apa-apa diusapnya kepalaku. Kebahagiaan benar-benar terpancar dari wajahnya yang sumringah. Aku, anak perempuan satu-satunya dari keempat anaknya. Termasuk paling dekat dengan beliau, paling disayang, paling dimanja, meskipun tidak dengan harta.

Namun bagaimana dengan hatiku, perasaanku, pikiranku juga cintaku? Hari itu dunia mendadak menjadi remang-remang. Kadang kala benderang, kadang kala gulita menyelimuti, dan sesekali muncul pelangi. Setidaknya begitulah yang aku rasakan.

Bunga-bunga yang tersebar di penjuru ruangan hanyalah pemandangan semu belaka, ia tidak mampu menyemarakkan hatiku. Irama kasidah dari pengeras suara yang kami sewa tidak dapat menghiburku. Tidak mampu membuatku berpaling dari masalah yang sedang mengecamuk didasar hatiku.

“Rabbi, mengapa aku seperti ini? Hilangkan semua keraguan ini." Jeritku dalam hati. Aku mencoba meredam gejolak yang tiba-tiba menggelombang dalam samudra hatiku dengan istighfar. Ingin kunikmati semua itu, ingin kutepis perih yang tiba-tiba menyayat dadaku. Ingin kubuang rasa yang telah aku bunuh empat hari sebelum hari itu. Namun aku tak berdaya.

“Pergi kau, kawan. Songsonglah hari-hari indahmu tanpaku. Kita harus menempuh jalan kita masing-masing," kataku dalam hati.

Ternyata sosok itu tidak juga jera membayangiku. la menari-nari di pelupuk mata. Kemanapun kuarahkan pandanganku, seolah dia ada disana. Memandangku dengan sorot mata terluka dan penuh penyesalan. Tajam, menguliti kesadaranku. Dan seolah dari bibirnya yang kaku, dia mendesis.

“Kau tega, Din. Kau khianati aku. Di saat aku sedang berusaha mencari jalan keluar untuk mengetuk pintu hati orangtuaku, kamu justru menghancurkan segala-galanya dengan pernikahanmu ini. Tidakkah kau pedulikan perasaanku ini? Puaskah hatimu sekarang?"

Suara itu mendengung-dengung di telingaku. Seperti lebah yang terusik. Seperti pasar yang ramai dengan bunyi dan irama. Kepalaku pusing. Ingin aku mengurung diri di kamar, namun itu tidak mungkin, karena sejak tadi pagi tamu-tamu sudah banyak yang datang, ada yang sejak kemarin, bahkan ada yang menginap. Membantu mempersiapkan segala sesuatu untuk menjamu tamu. Lagi pula aku tidak ingin mengundang perhatian mereka. Juga tidak ingin membuat panik mereka yang sedang bersuka ria, terutama orangtuaku.

Tiba saatnya pengantin laki-laki, calon suamiku datang bersama rombongan. Keringat dingin membasahi sekujur tubuhku. Aku semakin gelisah, bimbang, dan ketakutan sendiri.

Pernikahan ini adalah keputusanku sendiri, aku yang memilih seperti ini. Tidak ada yang memaksaku, meskipun orangtuaku sudah menyiapkan semuanya, kalau aku memang tidak bersedia, tentu aku masih bisa menolaknya. Nyatanya, empat hari yang lalu, saat mereka menyambutku dari Jakarta bersama calon suami. Saat mereka memberitahukanku tentang persiapannya, aku toh tidak melakukan penolakan. Tapi, betapa sulitnya menguasai diri.

Bagi yang tahu masalahnya mungkin mereka bisa mengerti, mengapa aku sampai seperti ini. Namun bagi yang belum tahu, tentu mereka mengenggapku tak tahu diri. Jujur saja, calon suamiku itu adalah laki-laki yang pernah aku benci sebenci-bencinya. Dua tahun yang lalu, tahun 1992, kami sudah hampir naik pelaminan. Segala sesuatunya sudah disiapkan, tinggal menunggu dia pulang dari Kalimantan, tempatnya bekerja. Namun, dua minggu sebelum hari H, dia mengirim telegram. Katanya dia tidak bisa pulang karena ada panggilan kerja ke luar negeri. Otomatis pernikahan dibatalkan.

Masih terbayang di mataku, betapa sorot mata keluargaku menyiratkan belas kasihan. Yang bukannya bisa menghibur hatiku, namun justru seolah menelanjangiku. Aku semakin sakit hati, karena ternyata sampai hari pernikahan yang ditentukan itu ternyata dia belum berangkat juga. Alasannya visanya belum turun. Kalau belum turun mengapa tidak pulang dulu saja? Sesalku.

Akhirnya aku merantau kembali ke Jakarta. Pelan-pelan kukubur semua kecewa dan rasa malu di belantara metropolitan itu. Sedikit demi sedikti sakit hati itu terkikis oleh kesibukan. Hingga satu setengah tahun kemudian, hatiku tertambat pada salah satu teman abangku. Dan ternyata aku tidak bertepuk sebelah tangan.

Sejak saat itu bunga-bunga mulai tumbuh dan mekar di taman hatiku. Makin hari makin berwarna-warni. Lukapun benar-benar sirna. Sempat juga aku bersyukur. Bahwa, kegagalan cintaku dulu telah mempertemukan aku dengan pria sebaik teman abangku itu.

Namun, agaknya Allah tidak meridhai. Dua pilihan yang disodorkan oleh orangtuanya adalah lampu kuning. Sulit untuk dia pilih, antara cinta atau studi. Kalau dia turutkan cinta, dia harus rela tidak meneruskan studi. Tapi kalau dia inginkan studi, sudah pasti harus rela memasung cintanya. Dalam suasana pelik seperti itu, tiba-tiba calon suamiku muncul. Dia yang sudah hampir dua tahun tidak ada kabar beritanya, tiba-tiba menjelma di depan pintu kontrakanku. Menyampaikan niatnya utnuk kembali, bersama merajud kasih dan membina keluarga. Dengan bekal surat dari keluargaku yang di desa.

“Apapun yang terjadi dan apapun keputusannya, musyawarahkan semua di rumah. Sebisa mungkin, kamu harus pulang bersama dengan dia." Singkat dan padat isi surat itu.

Sesuai pesan surat itu, akupun pulang bersama dia. Dan sesampai di rumah, semua sudah dipersiapkan. Aku tidak sanggup lagi berpikir untuk melakukan penolakan. Ternyata di perjalanan calon suami menghubungi orangtuaku, mengatakan bahwa kami pulang bersama-sama. Kepulanganku bersamanya itu, diartikan oleh orangtua sebagai tanda perbaikan hubungan kami. Aku kaget mendengarnya. Namun, melihat semua itu aku tidak tega mempermalukan orangtuaku untuk kedua kalinya.

Jadi tidak ada sesiapapun yang memaksa aku. Kalau tidak, aku bisa saja memberi tahu pada mereka maksud kepulanganku. Yaitu, sekadar memenuhi isi surat itu. Tapi, toh itu tidak aku lakukan, dan aku setuju bahwa pernikahan kami akhirnya diputuskan, jatuh di hari ke empat sejak kami tiba di rumah. Hari inilah saatnya, awal September !994 pernikahan itu akan dilaksanakan. Mengapa aku justru ragu?

“Ya Allah, lapangkanlah hatiku menerima keputusan ini. Aku tahu, semua terjadi atas kehendak-Mu. Untuk itu, hilangkanlah keraguan dalam hatiku. Mudahkanlah semua bagiku, ya Rahman. Dan masukkanlah aku kedalam golongan istri-istri yang shalehah. Amiin" doaku setelah shalat asar, sebelum perias mendandaniku untuk acara ijab qabul.

Meski sulit kulukis senyum di bibirku, dan ceria belum mampu aku hadirkan di wajahku. Namun, aku sudah dapat menguasai diri dan sadar bahwa inilah jalan satu-satunya untuk membahagiakan orang-orang yang mencintaiku. Orangtuaku, si dia dan calon suamiku. Acara ijab kabul berjalan dengan lancar. Aku resmi menjadi istri orang.

“Selamat menempuh hidup baru."
“Semoga barakah."
“Semoga bahagia selalu."
“Semoga mawadah, warrahmah, fiddunya wal akhirah."

Doa para tamu yang menyalamiku. Aku hanya bisa mengangguk dan sesekali mengucap amiin. Tanpa dipinta air mataku menitik satu per satu. Membasahi pipiku, menyiram lapisan bedak tebal yang dari tadi membuat wajahku kaku, sulit untuk digerakkan. Sapu tangan yang dari pagi aku genggam, kini sudah basah oleh keringat dan air mata. Kembali aku dihantam oleh gelombang dilema. Hatiku merana. Terluka oleh keputusanku sendiri. Teriris oleh halusinasiku sendiri.

“Apa yang terjadi padamu, Linda? Mengapa dari tadi aku perhatikan kamu selalu gelisah. Kamu sakit ya?” tanya Ayuni, saudara yang menjadi sahabatku sejak dulu.

“Iya, Yu. Sepertinya aku masuk angin."

“Kalau begitu, ayo coba aku kerokin"

“Yun, mengapa tiba-tiba hatiku begini. Sekejap aku sedih, sejenak kemudian aku bahagia. Apa yang harus aku lakukan, Yu?"

“Kamu harus mencoba untuk ikhlas, Nda. Hanya itu saranku. Aku tahu isi hatimu dan dimana pikiranmu mengarah."

Mendengar nasihat Yuni. Air mataku semakin deras. Aku hampir putus asa, takut kalau-kalau perasaan seperti ini akan menguasaiku sampai lama.

“Ini keputusanmu sendiri, Nda. Kau lihatlah bapak dan ibumu yang gembira menyaksikan persandinganmu tadi. Apa kau tega merusak suasana ini dengan kesedihanmu yang tidak perlu itu? Coba bayangkan, empat atau lima tahun lagi dia akan berdiri di mimbar dengan baju toga dan topinya. Tentu orangtuanya akan tersanjung dan bahagia. Artinya pengorbananmu tidak akan sia-sia, Nda."

Malam itu, aku ditemani Ayu. Suamiku tidak tidur di kamar, dia tidur di depan dengan salah satu saudaranya yang menginap. Lagipula, rupanya dia juga mengerti bahwa aku butuh waktu untuk menguasai diri dan menerima kenyataan. Sedikit banyak, kehadirannya yang tiba-tiba telah mengingatkanku akan luka lama. Akan rasa malu dua tahun yang lalu dan sakit hati karena dia membatalkan pernikahan secara sepihak setelah segalanya diasiapkan.

Di balik itu, tentu dia tidak pernah tahu. Kalau kesedihanku bukan hanya karena itu. Air mataku bukan hanya untuk meratapi peristiwa dua tahun yang lalu. Tapi, hari ini, di saat dia merasa telah menebus kesalahannya dua tahun yang lalu. Di saat dia merasa telah melunasi utangnya pada orangtuaku. Merasa telah mampu mengambalikan harga diriku. Aku justru sedang membuat utang, menyakiti hati seseorang.

Di saat dia bahagia, karena merasa telah berhasil memekarkan kembali kuncup lama, aku justru sedang mati-matian mengubur separuh hatiku yang telah dihuni oleh orang lain. Separuh cintaku, separuh asaku, dan separuh kebahagiaanku. Ayuni tidak bosan-bosannya memberiku gambaran tentang masa depan, karena dialah satu-satunya orang yang saat itu tahu persis bagaimana perasaanku.

Saat fajar mulai merambah pagi, aku bangun, shalat, dan memulai tugas baruku. Sebagai seorang istri. Sedih tidak sedih, iklas tidak ikhlas, gembira ataupun tidak. Kehidupan tetap harus dijalakan, dia akan tetap maju dan tidak mungkin dapat diputar ulang. Pilihanku kini hanya satu, maju dan melangkah di sisinya. Berdampingan untuk selamanya, meraih ridha lllahi. Perahu sudah berlayar, mesin sudah dihidupkan, sikap yang paling baik dan aman bagiku adalah mengikut nahkoda. Agar perjalanan selamat sampai tujuan.
Kisah-kisah Menggetarkan
Untuk Mereka yang Mencintaiku
Dekorasi Pelaminan Pilihan